Friday, 20 May 2011

Catatan Sang Penjaga Waktu: Kisah Hidupku Yang Baru

Tidak lama setelah aku sampai di dunia ini, aku sudah merasa tidak asing lagi. Entah mengapa aku tidak heran melihat pulau-pulau melayang di atas kepalaku, sementara kuil megah berdiri tepat di bawah benda-benda itu. Padang rumput yang luas, gunung-gunung batu yang mencakar langit, dan hutan hijau di cakrawala seakan mengembalikan diriku pada ingatan masa lalu. Mereka seolah-olah bersekongkol untuk membuatku ragu, apakah ini hanya mimpi belaka atau malah sebaliknya?

Charia. Wanita itulah yang pertama kali mencoba meyakinkan kalau diriku ini tidak sedang tertidur. Awalnya tentu saja aku sangsi pada setiap ucapannya. Bagaimana tidak? Coba tebak apa yang manusia pikirkan ketika di hadapannya muncul seorang perempuan berkulit putih nan halus, dengan mata sebiru langit serta rambut perak yang lembut, berbalut gaun putih berlapis-lapis dan turun dari langit dengan kepak sayap cahaya seraya berkata, “Selamat datang, Pangeran Xeno.” Jawabannya sudah jelas, “Aku pasti bermimpi.”

Namun kemudian Charia membawaku ke tempat ini, istana dengan seribu balkon dan taman kolosal di sekelilingnya. Di sinilah aku dibuat percaya kalau tanah ini tempatku seharusnya berada. Karena ada begitu banyak benda di dalam bangunan megah ini yang menunjukkan keberadaanku sebelumnya.

Salah satunya di sebuah lorong dengan sederet lukisan raksasa para raja dan ratu sebelum masaku. Ada satu bingkai di sana, tak bergambar dengan platform emas di bawahnya. Di permukaan logam itulah namaku terukir dengan tulisan bersambung yang indah, beserta sebutan lain yang berukuran lebih besar di atasnya. Saat aku bertanya pada Charia siapa pemilik nama itu, ia pun menjawab, “Anda, Pangeran Xeno. Itu adalah nama lahir Anda. Nama yang hanya Anda yang sanggup melihatnya. Nama yang harus Anda jaga dengan segenap nyawa dan raga.”

Lalu aku bertanya lagi padanya, “Kenapa kau memanggilku dengan nama Xeno? Itu bukan nama yang tertulis di sini.”

Dengan senyum dan bungkuk rendah Charia menjawab kebingunganku. “Itu pesan ibu Anda sebelum beliau pergi. Beliau berkata kalau Anda akan memiliki tiga nama. Pertama, nama lahir Anda. Yang kedua adalah Xeno, sebutan untuk Anda. Dan yang terakhir, adalah nama yang Anda kenakan sebelum sampai kemari.”

Itulah awal mula aku mulai bertanya banyak pada Charia. Aku tidak lagi ragu atau malu menanyakan siapa diriku, seperti orang yang baru saja kehilangan ingatan masa lalu. Dan ajaib, Charia sanggup menceritakan hampir seluruh hidupku seakan segalanya telah tertulis dalam sebuah buku. Ia pun berhasil menghapus hampir semua ragu dalam hatiku, membuatku yakin kalau dunia ini adalah rumahku. Dan di sinilah aku, duduk di salah satu dari seribu balkon istanaku, mulai menulis kisah hidupku yang baru.

No comments:

Post a Comment